Manusia Mati di Lumbung Dunia oleh: Indro Surono Dunia kini adalah dunia yang dalam sejarah peradaban berhasil memproduksi pangan yang cukup, bahkan berlebih untuk semua orang. Saat ini dunia memiliki ketersediaan pangan jika dirata-rata akan cukup untuk mengenyangkan setiap orang lebih dari 2 kg makanan perhari; 1 kg biji-bijian dan kacang-kacangan, 1/2 kg daging, susu dan telur dan sisanya buah-buahan dan sayur-sayuran. Lebih jauh, data Bank Dunia menunjukkan ketersediaan kalori perkapita di negara berkembang telah naik dari 1,925 kal/kapita (1961) menjadi 2,540 kal/kapita (1992). Jumlah ini lebih besar daripada persyaratan FAO yakni sebesar 2,200 - 2,300 kal/kapita. Namun, dunia kini juga mencatat ironi terbesar kehidupan, di saat produksi pangan berlebih, ternyata ratusan juta orang masih harus berjuang melawan kelaparan. Simaklah data berikut. Pada tahun 2002, sebanyak 815 juta manusia di negara berkembang masih menghadapi kelaparan, 300 juta di antaranya adalah anak-anak. Mereka bergulat melawan rasa lapar dan menghadapi serangan berbagai penyakit akibat kurang gizi bahkan ancaman kematian. Satu dari tiap lima penduduk dunia menderita kekurangan gizi. Sekitar 777 juta orang mengalami kelangkaan pangan, yang tinggal selangkah lagi masuk kategori menderita kelaparan (World Food Summit, Five Years Later, 2002). Ironi lain, bahwa sebagian negara yang warganya kelaparan, justru menjadi pengekspor pangan. Brazil misalnya, pada tahun 1994 sekitar 70 juta penduduk Brazil mengalami kelaparan, sementara pada saat yang sama Brazil mengekspor makanan senilai 13 juta USD ke negara maju. Jacques Diouf, Sekjen Badan Pangan dan Pertanian PBB (FAO) jelas menyebut bahwa penyebab utama maalah ini adalah sistem perdagangan global yang tidak adil. Perdagangan telah menjadi icon ekonomi utama yang menjadi indikator kemajuan termasuk dalam urusan pangan. Perdagangan pangan dipercaya mampu mengatasi persoalan alokasi sumberdaya pangan dan pertanian secara efektif dan mengatasi persoalan pangan dunia melalui proses pembelian pangan. Namun, premis di atas jelas terbantahkan. Perdagangan membuktikan bahwa aliran komoditi senantiasa bergerak kearah konsumen dengan daya beli lebih tinggi atau kepada mereka yang mampu membayar. Itulah kenapa, komoditi pangan yang bermutu selalu mengalir ke negara maju yang penduduknya memiliki daya beli yang besar. Dengan demikian, mereka yang miskin, negara berkembang hanya akan mendapatkan sisa atau tidak kebagian karena mereka minim atau tidak memiliki daya beli. Konsep ketahanan pangan yang ada sekarang juga mengandaikan ketahanan di tingkat global yang menempatkan perdagangan sebagai instrumen utama. Ilustrasi sederhananya, jika satu negara lebih menguntungkan menjual bunga maka lebih baik tidak menanam padi. Untuk memberi makan warga, cukup dibeli dari negara yang produksi pangannya berlimpah. Itulah logika perdagangan. Persoalannya, jika ada kekeringan global yang menurunkan produksi pangan, tentu negara berkelimpahan pangan akan mengutamakan warganya dulu daripada menjual ke negara lain. Lalu, apa yang bisa diharapkan dari negara pedagang bunga? Makan bungakah? Perdagangan pangan global di tingkat tertentu memang menjadi ancaman bagi kedaulatan pangan dan sistem pangan lokal yang telah lama ada di komunitas-komunitas negara berkembang. Tarikan liberalisasi yang kian kencang, tidak saja mematikan sistem pangan lokal tapi juga menghancurkan kehidupan petani. Dari sebab itu, berbagai elemen masyarakat sipil di seluruh dunia, kembali menyerukan perlunya gerakan menghidupkan kembali sistem pangan lokal dan kedaulatan pangan. Keberdayaan dan kemandirian pangan sejak dari individu rumah tangga dan komunitas lokal yang terus bertingkat ke wilayah negara merupakan acuan yang hendak dicapai dari gerakan ini. Lokalitas menjadi alter icon yang mau diperjuangkan. Dan, wacana kali ini coba mengurai kenapa alter icon ini menjadi penting dan relevan untuk dilakukan….. (ISJ) Redaksi
Sosial EkonomiOctober 30, 2007 8:32 am
Comments »
No comments yet.
RSS feed for comments on this post.
Leave a comment
Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>
