Uncategorized, Sosial EkonomiOctober 9, 2007 6:06 am
Aksi global mengantisipasi perubahan iklim

Dalam Protokol Kyoto periode berikutnya negara berkembang utara selatan harus mengutamakan keterkaitan pembangunan dan lingkungan. Mereka dapat mengklarifikasi isu-isu penting untuk menghasilkan kerangka global mengatasi perubahan iklim setelah 2012, ketika periode pertama Protokol Kyoto berakhir saat pertemuan di Bali pada Desember nanti. Demikian pernyataan Martin Khor, ilmuwan dari Institute of Science in Society (ISIS) dalam siaran pers 24 September lalu.

Menurutnya, untuk mendapatkan iklim yang stabil, paling tidak perlu empat hal penting, yaitu target berdasarkan kajian ilmiah, hubungan yang adil utara selatan, keterkaitan pembangunan dan lingkungan dan keterpaduan kebijakan nasional dan internasional.

Kajian tentang perubahan iklim sangat diperlukan terutama bagi negara berkembang yang sangat terpengaruh. Beberapa hal yang bisa menjadi target global seperti membatasi peningkatan suhu pada dua derajat celcius (atau lebih baik di bawahnya) dan mencegah konsentrasi gas rumah kaca (greenhouse gasses) melebihi 450 ppm setara karbondioksida. Dimana pada level itu akan terjadi kerusakan yang besar, dan bila melebihi level itu para ilmuwan memperkirakan akan terjadi malapetaka.

Bagaimanapun penetapan target itu perlu kesepakatan antara utara selatan. Seperti UNFCCC dan prinsip-prinsip Kyoto menyangkut hak dan tanggungjawab. Namun yang terpenting adalah menentukan langkah nyata dan perkiraan untuk mengantisipasi.

Tentu saja prinsip ini harus meliputi semua aspek negosiasi dan tergambar dalam perjanjian yang dibuat. Implikasi pada usulan negara berkembang tentang target global seharusnya lebih tegas dibahas. Sebagai contoh, Uni Eropa mempunyai usulan untuk mengurangi 50 persen emisi global (level 1990) sampai 2050 dan mengurangi 60-80 persen untuk negara maju.

Ini langkah yang baik, bahwa Uni Eropa telah mulai mendorong dengan mengutamakan usulan dan pelaku. Tentu saja ini hanya awal dan Uni Eropa dengan negara maju lain diharapkan meningkatkan komitmen atas usulannya. Tetapi usulan bagi negara berkembang mempunyai implikasi yang harus dipertimbangkan serius. Dengan asumsi secara sederhana, bahwa perhitungan negara berkembang dan maju 50:50 untuk total emisi, kemudian 50 persen secara global terpotong 70 persen untuk negara maju dan 30 persen emisi negara berkembang.

Jika populasi di negara berkembang dua kali lipat pada periode 1999-2050, implikasinya adalah 65 pengurangan secara bersama per kapita emisi. Ini pengurangan yang sangat besar, dan apakah negara berkembang bisa mengurangi? Harus diperdebatkan secara terbuka.

Menempatkan perubahan iklim sebagai krisis lingkungan memerlukan solusi pembangunan secara serentak. Tantangan pembangunan begitu besar, jauh dari yang telah diperkirakan. Seperti pendapat bahwa jika perubahan iklim tidak terprediksi, efeknya akan menghambat pembangunan. Sehingga menempatkan perubahan iklim melalui mitigasi dan adaptasi adalah penting dan lebih efektif.

Selama ini biaya kerusakan dan rekonstruksi akibat bencana begitu besar. Laporan USA Today (29 Agustus 2007) menyatakan bahwa Badai Katrina tahun 2005 telah menyebabkan kerusakan senilai 150 milyar dolar AS dan menelan biaya rekonstruksi 116 milyar dolar AS serta biaya lainnya seperti asuransi. Saat bencana tsunami 2004 juga menelan biaya milyaran dolar untuk rehabilitasi dan rekonstruksi. Untuk itu lebih baik dilakukan upaya pencegahan dan adaptasi sebelum terjadinya dampak atau bencana.

Dalam upaya transfer teknologi perubahan iklim, semestinya juga dihindari hal-hal yang mempersulit, seperti hak intelektual (paten). Sebagaimana yang terjadi di India yang mengalami hambatan dalam memperkenalkan suatu bahan kimia baru yang tidak berbahaya untuk ozon sebagai pengganti CFCS karena hak paten pada bahan kimia itu.

Sementara itu baru-baru ini (akhir September lalu), seperti diberitakan, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam sidang ke-62 Majelis Umum PBB di Markas Besar PBB di New York mengharapkan pertemuan Bali nantinya dapat merumuskan suatu kerangka dasar kesepakatan baru untuk menggantikan Protokol Kyoto yang mandatnya akan segera berakhir.

Indonesia selaku tuan rumah UNFCC akan membawa tujuh agenda dalam pertemuan tersebut, yaitu adaptasi, migitasi, CDM (Clean Development Mechanism), mekanisme finansial, pengembangan teknologi dan kapasitas, pengurangan deforestasi (perusakan hutan), serta pasca 2012 atau pasca Protokol Kyoto.

Bersama negara-negara pemilik hutan hujan tropis dengan wilayah luas (Malaysia, Brazil, Peru, Republik Demokratik Kongo, Kamerun, Kolumbia, Papua Nugini, Gabon, dan Kosta Rika), Indonesia juga menyusun suatu proposal untuk memperkuat peranan hutan dalam mengurangi pemanasan global.

Uncategorized, Sosial Ekonomi 4:47 am

Manusia modern sekarang berada pada periode chemicalization. Pada periode ini tubuh kita di-’bombardir’ dengan berbagai macam bahan kimia, ungkap Dokter Riani Susanto, seorang praktisi kesehatan, dalam Seminar Hidup Sehat dan Seimbang Ala Organik, 25 September 2004.

Seminar ini adalah bagian dari rangkaian kegiatan Kampoeng Organik, 23-26 September 2004, Bumi Perkemahan Ragunan, Jakarta Selatan, yang diselenggarakan oleh sejumlah organisasi pendukung pertanian organik.

Kehidupan modern telah membuat tubuh kita terus menerus harus menghadapi polusi, bahan kimia, stres, dan pola makan yang tidak sehat. Akibatnya, seiring dengan waktu, berbagai macam gangguan kesehatan tubuh pun bermunculan, mulai dari yang ringan sampai yang berat.

Salah satu penyebab utama munculnya berbagai gangguan kesehatan ini adalah penumpukan bahan kimia di dalam tubuh manusia.

“Saat ini kita sedang mengalami periode chemicalization,” kata Riani Susanto lagi.

Menurutnya, dalam periode chemicalization ini, tubuh kita ‘dibombardir’ oleh bahan kimia yang terdapat di mana-mana. Baik itu dari produk makanan, produk kosmetika, bahkan sampai tanah dan air pun telah dicemari oleh bahan-bahan kimia.

Lalu bagaimanakah solusinya?

“Segala sesuatunya harus kita mulai dari diri sendiri,” kata Bibong, seorang ibu rumah tangga yang mempraktekkan gaya hidup organik.

“Kita tidak dapat mengubah seisi dunia, kita juga tidak dapat mengubah satu negara, kita tidak akan dapat mengubah satu daerah dan lingkungan tempat tinggal kita, yang dapat kita ubah hanyalah diri kita sendiri,” lanjutnya lagi.

Gaya hidup organik dapat dimulai dengan hal-hal yang sederhana. “Intinya adalah sedapat mungkin mengurangi pemakaian bahan kimia dan barang-barang yang menghasilkan sampah,” kata Riani Susanto.

Ibu Bibong kemudian mencontohkan beberapa hal yang dapat dilakukan untuk memulai gaya hidup organik.

“Jika membeli suatu barang, kalau masih dapat dibawa sendiri, atau dimasukkan ke dalam saku atau tas yang dibawa, tidak usah meminta plastik bungkusan,” katanya mencontohkan.

“Kita juga dapat menggunakan berbagai macam bahan-bahan yang murni berasal dari alam untuk mengganti bahan-bahan kimia,” lanjutnya lagi.

Beberapa batang kayu manis dibungkus dengan kertas tipis, dan dimasukkan saja ke dalam lemari atau laci-laci sebagai pengganti kapur barus. Kayu manis juga dapat berfungsi sebagai pengharum ruangan.

Air jeruk nipis yang dicampur dengan air biasa bisa digunakan sebagai pelicin pakaian dan pengharum ruangan.

“Yang alamiah itu lebih sehat,” kata Ibu Bibong.

Alam ini sudah menyediakan sedemikian banyak manfaat yang sebenarnya dapat dipergunakan oleh manusia. Lalu kenapa kita harus berpaling dari alam dan malah menggunakan bahan-bahan kimia yang tidak alamiah?

Uncategorized, Sosial Ekonomi 4:42 am

Leopold Center: Pangan lokal lebih aman dan sehat daripada pangan impor

Survei terbaru menunjukkan bahwa konsumen Amerika Serikat skeptis terhadap keamanan sistem makanan global dan sebagian percaya bahwa pangan lokal lebih aman dan baik bagi kesehatan daripada pangan dari tempat yang jauh (impor).

Ini adalah pandangan dari responden yang mewakili, dengan sample 500 konsumen di seluruh negeri yang berpartisipasi dalam survei web yang diselenggarakan Leopord Center for Sustainable Agriculture, Juli 2007. Tanggapan mereka terangkum dalam Laporan Leopold Center, "Persepsi konsumen tentang keamanan, kesehatan dan lingkungan dampak dari berbagai skala dan kondisi geografi rantai suplai makanan." Paper ini ditulis oleh Rich Pirog, yang memimpin Center’s Marketing and Food Systems Initiative dan Andy Larson (lulusan Iowa State University).

Sasaran studi adalah untuk mengukur persepsi konsumen tentang keamanan pangan, dampak bermacam skala dan metode produksi sistem makanan pada emisi gas rumah kaca, kemampuan membayar sistem makanan yang mengurangi emisi gas rumah kaca, manfaat kesehatan pangan lokal dan organik.

Survei responden menyebutkan tentang pentingnya keamanan pangan, kesegaran (tanggal panenan) dan tanpa penggunaan pestisida pada produk segar, dengan paling tidak produksi produk lokal, tingkat emisi gas rumah kaca dan transport produk, dan apakah responden dapat menghubungi petani yang mengembangkannya.

Pirog mengatakan bahwa 70 persen responden merasa sistem pangan Amerika Serikat menjadi aman, setelah mereka bertanya tentang keamanan produk segar. Delapan puluh lima persen dan 88 persen responden berturut-turut merasa sistem pangan lokal dan regional sedikitnya menjadi aman atau sangat aman dibandingkan hanya 12 persen sistem pangan global.

Faktor kesehatan juga berpengaruh atas sikap konsumen, lebih dari dua pertiga responden (69 persen) paling tidak dengan kuat setuju bahwa pangan lokal lebih baik bagi kesehatan perseorangan daripada pangan yang telah menempuh perjalanan jauh (antar negara).

Apakah konsumen berkeinginan membayar makanan dari rantai suplai yang menghasilkan setengah gas rumah kaca pada rantai konvensional? Hampir setengah responden dari survei akan membayar 10-30 persen premium, tetapi persentasi yang sama juga menyatakan tidak akan membayar.

"Dengan peningkatan yang dramatis popularitas pangan lokal, petani yang mengembangkan pangan ini dan organisasi yang mendukung petani dan makanan ini akan diminta membuktikan adanya ekonomis, ramah lingkungan dan manfaat kesehatan produk ini, dan untuk memastikan keberlanjutan keamanan sebagai bagian rantai makanan," kata Pirog.

Dia menyatakan bahwa temuan menunjukkan akan kebutuhan kritis akan penelitian yang lebih dalam. "Lembaga Pemerintah, universitas, profesional kesehatan, perusahaan swasta, dan organisasi non profit membutuhkan kerjasama pengembangan petani dan proses pangan lokal untuk mengembangkan penelitian tentang rantai suplai makanan," tambahnya.