Kubis
1. Ulat Daun Kubis (Diamond Back Moth) : Plutella xylostella L.
Famili : Plutellidae
Ordo : Lepidoptera
Morfologi/Bioekologi
Ngengat berwarna abu-abu sampai coklat kelabu dan pada saat sayap dilipat nampak tiga buah tanda berupa gelombang seperti berlian (diamond) atau terdapat bentuk segitiga sepanjang punggungnya. Ngengat beristirahat pada siang hari. Umur ngengat 2 - 4 minggu. Ngengat betina mampu menghasilkan telur 180 - 320 butir. Daur hidup dari telur sampai ngengat pada ketinggian 250 m di atas permukaan laut (dpl) 12 - 15 hari dan 20 - 25 hari pada ketinggian 110 m dpl.
Telur berwarna kuning kehijauan diletakkan di sekitar tulang daun pada permukaan bawah daun dalam satu kelompok sejumlah 1 - 6 telur.
Larva P. xylostella mudah dibedakan dengan larva serangga hama lainnya karena larva ini tidak mempunyai garis membujur pada tubuhnya. Larva terdiri atas empat instar. Ukuran larva instar keempat 10 - 12 mm. Kepala berwarna kuning muda terdapat bintik-bintik gelap. Tubuhnya berwarna hijau muda terdapat bulu hitam tipis. Apabila disentuh larva bereaksi ganas, menjatuhkan diri dan membentuk benang sutera.
Pupa terletak pada daun atau batang, seperti jalinan benang berwarna putih sehingga nampak seperti kumparan benang.
Dalam satu tahun beberapa generasi dapat dihasilkan apabila kondisi menguntungkan, di negara subtropis tidak lebih dari 2 - 3 generasi tetapi di negara tropis dapat mencapai 16 generasi.Hama P. xylostella mempunyai daerah sebaran luas baik di daerah tropis maupun subtropis. Di Indonesia hama tersebut dilaporkan menyerang di Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Selatan dan Sulawesi Utara.
Gejala serangan
Larva (ulat) muda yang baru menetas, mengorok daun kubis selama 2 - 3 hari. Selanjutnya memakan jaringan bagian permukaan bawah daun atau permukaan atas daun dan meninggalkan lapisan tipis/transparan sehingga daun seperti berjendela dan akhirnya sobek serta membentuk lubang. Apabila tingkat populasi larva tinggi hampir seluruh daun dimakan dan hanya tulang daun yang ditinggalkan. Umumnya serangan berat terjadi pada musim kemarau pada umur 5 - 8 minggu.
Ulat daun kubis mulai menyerang sejak awal pra pembentukan krop (0 – 49) hari setelah tanam = hst) sampai fase pembentukan krop (49 - 85 hst).
Tanaman inang lain
Raphanus sativus (lobak), Nasturtium sp. (sejenis selada air), Alyssium sp., Methiola sp, kubis, kolrabi, kubis bunga, petsai dan kailan. Gulma tanaman inang antara lain Capsella bursapactoris, Cardamine hirsuta, Brassica pachypoda, N. officinale (selada air) dan Lepidium sp.
2. Ulat Krop (Large Cabbage Heart Caterpillar) : Crocidolomia binotalis Zell.
Famili : Pyralidae
Ordo : Lepidoptera
Morfologi /Bioekologi
Ngengat berwarna kelabu, pada sayap depan terdapat garis-garis pucat serta titik-titik. Ngengat aktif pada malam hari dan tidak tertarik cahaya.
Lamanya daur hidup (dari telur - ngengat) sekitar 26 hari.
Telur umumnya dijumpai pada permukaan bawah daun diletakkan secara berkelompok seperti susunan genteng berukuran 3 x 5 mm bervariasi antara 55 - 285 butir. Lama stadium telur 4 - 6 hari.
Larva instar 1 berukuran panjang 1,5 mm dan dapat berkembang sampai 15 – 20 mm pada instar 5. Larva berwarna kuning kehijauan dengan kepala berwarna hitam. Pada punggung dan tubuh bagian samping larva terdapat garis membujur berwarna coklat. Larva terdiri atas lima instar dan biasanya dijumpai berkelompok pada bagian bawah daun kubis.
Pupa terdapat dalam tanah dan tubuhnya terlapisi oleh partikel tanah.
Hama Crocidolomia mempunyai daerah sebaran terutama di Asia Tenggara, Afrika dan India. Daerah sebaran di Indonesia yaitu di Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Selatan dan Sulawesi Utara.
Gejala serangan
Ulat krop dikenal sebagai hama yang sangat rakus secara berkelompok dapat menghabiskan seluruh daun dan hanya meninggalkan tulang daun saja. Pada populasi tinggi terdapat kotoran berwarna hijau bercampur dengan benang-benang sutera. Ulat krop juga masuk dan memakan krop sehingga tidak dapat dipanen sama sekali.
Larva muda memakan daun dan meninggalkan lapisan epidermis yang kemudian berlubang setelah lapisan epidermis kering. Setelah mencapai instar ketiga larva memencar dan menyerang daun bagian lebih dalam menggerek ke dalam krop dan menghancurkan titik tumbuh.
Ulat krop dapat menyerang sejak fase awal pra pembentukan krop (0 – 49) hari setelah tanam (hst) sampai fase pembentukan krop (49 - 85 hst).
Tanaman inang lain
Jenis Cruciferae seperti Brassica, sawi, petsai, lobak, radish, Nasturtium sp. (sejenis selada air).
